Kamis, 12 Januari 2012

Penulisan Naskah Drama

PENULISAN NASKAH DRAMA


 

Drama sebagai sebuah proses pementasan tentunya tidak terlepas dari naskah dan lakon, di samping unsur-unsur pendukung yang lainnya. Naskah berbeda dengan lakon. Naskah merupakan urutan cerita sebelum dipentaskan. Urutan itu dalam drama modern berbentuk tulisan sedangkan dalam drama tradisional biasanya berbentuk lisan (ludruk, ketoprak, lenong, kaba, dan lain-lain). Sedangkan lakon adalah cerita dari naskah yang terlihat saat dipentaskan. Dengan begitu, meskipun naskah drama yang sama dipentaskan dalam waktu yang berlainan atau oleh grup drama yang berbeda, lakon yang muncul akan berbeda. Perbedaan itu lebih ditentukan oleh imajinasi sang sutradara, gaya para aktor, tatapentas, tatarias, dan sebagainya. Lebih-lebih pada lakon dari naskah terjemahan, perbedaan akan lebih tampak mencolok. Yang tidak berbeda dalam naskah dan lakon adalah tema dasar cerita. Naskah drama terjemahan Hamle jika dipentaskan oleh Rendra dan Putu Wijaya, pastilah akan terdapat dua lakon yang berbeda tetapi tema dasarnya akan sama. Tentunya, pada awalnya dibutuhkan naskah sebagai dasar penentuan iakon. Namun, naskah yang baik belum tentu memunculkan lakon yang baik pula. Bisa jadi, naskah buruk kalau dipentaskan (dilakonkan) akan menjadi baik apabila dikemas dan digarap oleh sutradara baik. Naskah dikatakan baik apabila terdapat konflik, emotif, dan gambaran laku yang mampu memberikan inspirasi baru bagi yang menerapkan naskah tersebut. Naskah drama dikerjakan oleh penulis naskah sedangkan lakon dikerjakan oleh sutradara.

Naskah atau lakon tersebut tidak terlepas dari warna dan gaya yang dibangun oleh penulis atau sutradara. Warna dan gaya itu biasanya berbentuk komedi, tragedi, tragekomedi, repertoar, dan parodi. Kemudian berdasarkan panjang pendeknya, ada drama berbentuk multibabak, satu babak, cuplikan (fragmen). Berdasarkan jenis gerak dan musik, muncul drama pantomim, tablo, sendratari atau opera, dan operette (opera yang pendek). Semua itu tentunya berpengaruh terhadap bentuk naskah drama yang dibuat untuk itu.


 

A. Ragam Naskah Drama.

Dalam dunia lakon ada beberapa ragam pementasan. Dengan begitu, dalam naskah juga ada beberapa ragamnya. Ragam naskah itu antara lain bergantung pada konteks dan suasana drama tersebut dilakonkan. Berikut bebe~apa ragam naskah drama berdasarkan konteks pementasannya.

1.Naskah Drama Panggung

Naskah drama panggung dibuat atas dasar wujud pementasan di panggung. Naskah tersebut sangat mementingkan dialog dan gerak para pelakunya. Penonton dapat secara bebas mengamati gerak yang dilakukan pemain dari berbagai sudut. Adegan tidak dapat diulang atau dipindahkan dalam waktu cepat dan singkat. Untuk itu, kekuatan alur dan sudut pandang sangat dipentingkan.

Kemudian, fokus terhadap gerak mimik sulit ditonjolkan. Untuk itu, dalam naskah drama panggung keterangan tentang penonjo(an fokus yang perlu dilihat penonton tidak perlu dicantumkan. Begitu pula, keterangan tentang pergeseran fokus juga tidak perlu ada. Dalam naskah brama panggung, yang perlu muncul hanyalah dialog dan keterangan perubahan fisik pemain. Dari dia(og' itulah sutradara menerjemahkan lebih jauh melalui pementasan. (Contoh drama panggung dapat dilihat pada bagian unsur-unsur drama haiaman berikutnya)


 

2.Naskah Drama Radio

Naskah drama radio lebih berpusat ke arah audio. Aspek pendengaran yang menjadi pusat garapan. Naskah drama radio bukanlah naskah yang dipentaskan di atas panggung tetapi naskah yang dilakonkan hanya cukup di studio radio.

Para pemain, dalam drama radio tidak dituntut untuk melakukan akting, blokin, atau prinsip drama panggung yang lainnya kecuali keharusan mengekspresikan laku melalui suara yang ditampilkan. Kemudian, lakon drama radio dapat diulang jika terjadi kekeliruan ucapan.

Imajinasi pendengar dalam drama radio dibangun lewat kekuatan suara yan~ dimunculkan. Pendengar dapat larut dengan drama radio apabila ekspresi ucap yang ditampilkan terpadu, memberi kesan sesungguhnya, dan memberi nuansa dramatis yang mampu membangun emosi pendengar.

Untuk itu; naskah drama radio tidak perlu keterangan laku tetapi memerlukan keterangan ucap. Unsur musik dan bunyi imitasi pertu dicantumkan dalam naskah itu. Umpamanya, bunyi 'kuda, kereta lewat, pintu yang dibuka, piring, dan seterusnya. Penulis .naskah harus tanggap akan efek bunyi ini.

Contoh Drama Radio.

WANITA

(Operator : MUSIK LEMBUT-BG 2. TUNING : ECHO

Sebenarnya... memang tak ada alasan bagiku untuk menyeleweng dengan bekas pacarku... hingga rumah tanggaku berantakan. Kini aku dicekam rasa bersalah dan penyesalan, yang membuatku hampir ingin bunuh diri karena beratnya tekanan batin yang aku rasakan.

3. JAKA (membuka pintu keras)

Tuning! Jangan kau lakukan itu ... gila!

4. TUNING : Biar, Biar aku bebas. Semua ini aku yang memulai. Dan kini akulah yang 2kan menyelesaikannya (terengah-engah).

5. JAKA

Tidak! Bukan dengan cara seperti itu. Le..le..iekas berikan gelas itu. Bukan racun yang akan menghabisi nyawamu untuk saat ini.

6. TUNING : Ini uuurusanku... lepaskan... lepaskan....    Ti...tinggalkan ...aku...lekas tinggalkan aku!

7. Operator : SMASH MUSIK- TUNE PEMBUKA (dst.)

(Sumber: Utari Putranto, iVanita, S3ndiwara Radio RRI Surabaya)

3.Naskah Drama Televisi dan Film

Naskah drama televisi dan film berbeda dengan naskah drama panggung dan drama radio. Perbedaan itu didasari oleh karakter televisi dan film yang mempunyai ruang tampilan yang terbatas. Seting dapat dikembangkan secara bebas berdasarkan kemauan penulis atau sutradara. Kemudian, gerak dan mimik sekecil apapun dapat ditonjolkan secara baik dari berbagai sudut penaambilan gambar. Penonton tidak bebas untuk mengamati suasana yang sedang berlangsung karena terikat pada gambar yang ada. Penulis naskah dengan bebas pula menonjolkan efek yang akan dibangunnya.

Oleh karena kerja pementasan drama televisi dan film sanagat rumit karena bergantung pada sudut pengambilan, penulis naskah perlu menuliskan dengan jelas tanda-tanda pengambilan. Tanda-tanda itu ialah close up, super close up, ~oom in, zoom out, disolve, dan seterusnya. Atas dasar hal itu tentunya, penulis naskah juga perlu mempunyai wawasan tentang pertetevisian dan perfilman agaF naskah yang diciptakan sesuai dengan nuansa televisi dan film.

Contoh Naskah Televisi dan film.

MBAH BOLO

CUT TO SCENE: 02 INT. RUANG TAMU DI RUMAH KASMINAH PAGI

BU JUPRI yang ingin pergi ke pasar dan telah siap dengan tas belanjaannya sedang menasihati KASMINAH di ruang tamu. KASMINAH kelihatan baru bangun tidur, namun sudah duduk di kursi tamu sambil makan jajan khas Surabaya.

BU JUPRI:

Nah, dadi wedok iku ojo males-males. Yok opo iso payu. (zoom in)

KASMINAH:

Sing males yo sopo Bu.

BU JUPRI:

Yo kon iku. Durung sikatan wis mangan jajan koyok arek cilik ae. (dst.)

(Sumber: Ricky Machmud. Mbah Bolo, Komedi Jawa).


 

B. Unsur-Unsur Naskah Drama

Naskah drama mempunyai beberapa unsur pendukung. Unsur-unsur itu adalah bahasa, karakter (pelaku), konflik antarpelak, alur, dan tema. Bahasa terdiri atas pilihan kata, penyusunan dialog, ujaran (pernyataan) pelaku, dan gambaran aksi pemain. Unsur bahasa tersebut harus tampak menarik dalam setiap naskah drama. Di samping itu, karakter, konflik, alur, dan tema sangat diperlukan dalam naskah drama: Konflik digunakan untuk menegembangkan karakter tokoh. Alur dikembangkan untuk memberikan inspirasi situasi (setting). Sedangkan tema menandakan karakteristik ide dalam naskah.

Jika unsur-unsur itu diperhatikan oleh penulis naskah drama, naskah yang diciptakan akan mampu membantu pementasan drama secara menarik dan kreatif. Naskah masih berbentuk kerangka pementasan. Sedangkan keutuhan laku setiap naskah akan terlihat saat dipentaskan. Dengan begitu, naskah harus mampu membantu sang sutradara, pemain, dan pekerja drama yang lainnya (penata pentas, penata rias, penata musik, t.) untuk menginterpretasi naskah tersebut.

Banyak naskah drama yang panjang tetapi tidak memberikan nuansa kreatif bagi penginterpretasi. Sebaliknya, banyak pula naskah ~yang hanya berbentuk puisi atau lirik mampu memberikan inspirasi pementasan yang sempurna. Seakan-akan naskah itu hidup dan menakjubkan setelah dikembangkan dalam bentuk lakon pementasan. Naskah yang mampu memberikan inspirasi kreatif tentunya naskah yang mempunyai unsur drama yang len~kap bukan pada panjang-pendek naskah. Berikutnya, dalam naskah drama, dialog dan keterangan laku (stage direction), sangat membantu pengembangan karakter, nlot, dan tema. Selain itu, keduanya dapat memberikan masukan bagi penentuan lakon (pementasan) yang dilakukan oleh sutradara. Dialog mert~pakan pernyataan timbal balik atas dasar stimulus dan respons yang muncul dan para pelaku. Sedangkan keterangan laku mengacu kepada perintah yang menyuruh pelaku untuk berbuat hal-hal yang bersifat lahiriah. Dalam naskah drama, keterangan laku sering mengawali dialog, menerangkan laku dalam dialoj, dan dicetak dalam tanda kurung. Dialog dan keteransan laku berkaitan dan saling melengkapi.

Berikut ini contoh dialog dan keterangan laku dalam naskah drama.

Contoh l.

Pelamar II : Berapa orang saingan yan~ musti saya hadapi?

Bapak    : Hanya seorang laki-laki.

Pelamar II : Jika tidak keliru, sainganku adalah itu, sarjana ekonomi made in USA.

Bapak    . Dugaanmu tidak keliru lagi. Apakah kalian tidak berpapasan tadi?

Pelamar II : Ya. Jadi, apakah tadi dia sudah lebih dulu mem-berikan lamaran? Bapak mengangguk-angguk

Pelamar II :    Kawan, eh, Bapak sudah berikan jawaban? Bapak mengangguk-angguk

Pelamar II : Apakah jawaban itu sudah merupakan keputusan sidang, eh keputusan resmi?

Bapak mengangguk-angguk

(Sumber: B. Sularto, lnsan-lnsan Malang dalam Lima Drama)


 

Contoh 2.

Laki-Laki (I: Saudara, selama dua puluh empat tahun yang terakhir ini, aku selalu berjualan sirop di kota; apakah kau kira aku tidak dapat memahami yang kaucapkan? (mereka keluar)    - "

Sanyasi : Apa yang sedang kau kerjakan, Nak?

Vasanti : Saya sedang memeperhatikan telapak tangan Bapak yang lebar.Tangan saya adalah burung kecil yang menemukan sarangnya di sini. Telapak tangan Bapak sangat luas, bagaikan jagat raya yang merangkum segalanya. Garis-garis ini ialah sungai-sungai, dan ini ialah bukit-bukit. (Dia meletakkan pipinya di atas telapak tanagan itu) (Sumber: Rabindranath Tagore, Sanyasi, terjemahan Toto Sudarto Bachtiar)


 


 

 

Prabu


 

Ramanda Resi, Ramanda ulanglah hendaknya perkataan Ramanda

agar tercerna perkataan itu

tidak tinggal bermain    .

seperti bayangan yar.g lincah

di hadapan pikiran


 

Resi


 

Dengarlah, ananda prabu

Ramanda ulang:

Bahagia dan tidak-bahagia tidak ada

Ketidakadaan lenyap di muka adanya yang ada


 

Prabu


 

(bermenung, lalu berkatd dengan sendirirrya)

Bahagia tidak ada

Dan tidak bahagia pun tidak ada


 

Dari contoh di atas, terlihat jelas bahwa dialog dibantu oleh keterangan laku. Keterangan laku selalu menerangkan pernyataan dialog pelaku. Kemudian, ada beberapa macam dialog. Ada dialog yang ditandai oleh nama (penanda) pelaku di kiri pernyataan (lihat contoh 1 dan 2). Ada pula dialog yang ditandai dengan keterangan pelaku yang berada sebelum pernyataan dialog (lihat contoh 3). Di samping itu, terdapat pula pernyataan dialog berbentuk puisi atau lirik (lihat contoh 3) dan terdapat pula pernyataan percakapan biasa (lihat contoh 1 dan 2).

Beberapa variasi dialog di atas menandakan bahwa naskah drama dapat dikembangkan dengan berbagai gaya. Gaya tersebut dimaksudkan untuk memunculkan kesan estetis dan karakteristik naskah yang diciptakan. Kesan itu ditandai oleh pilihan kata, bahasa, tata letak dialog, prinsip aliran (romantis, klasik, modern, dsb.), dan panjang pendek pernyataan dialog.

C. Cara Membuat Naskah

Seperti halnya membuat cerpen dan puisi, naskah drama sangat membutuhkan tingkat kekreatifan pengarang. Penentuan pelaku yang akan dimunculkan, tema dasar yang perlu dikembangkan, dan alur yang akan terjadi sangat diperhatikan. Namun, saat akan membuat naskah, sebaiknya pengarang tidak terjebak dalam syarat-syarat yang diharapkan itu. Yang sangat dipentingkan sebenarnya niat dasar pengarang naskah drama. Meskipun unsur itu terasa penting.

Banyak cara gampang untuk menulis naskah drama. Tulis saja peristiwa yang akan ditampilkan. Peristiwa apa saja. Kemudian, dalam peristiwa itu tentunya ada tokoh yang terlibat di dalamnya. Hidupkan tokoh tersebut dengan jalinan hubungan dengan tokoh lainnya. Agar tampak menarik, jalinan yang dibangun diksmbangkan menjadi konflik. Tulis. terus jalinan itu lewat beberapa tokoh yang pantas berada dalam peristiwa yang dimunculkan. Jangan berpikir akan bergaya apa, alur bagaimana, konflik model apa, dan panjangnya seberapa.

Yang penting peristiwa yang muncul dan telah mempunyai tokoh itu terus dijalin dengan dialog sebagai wujud terjadi konflik. Ingat konflik bukan berarti ada perselisihan antartokoh tetapi terdapat lalulintas pernyataan yang berasal dari pikiran masing-masing tokoh. Alirkan terus dialog itu. Kalau sudah, tahap berikutnya, dilakukan pemilihan dialog yang bagus dan tepat. janagan ragu mencoreti konsep naskah yang dibuat. namun, sebaiknya, mencoreti naskah itu di akhir penuangan agar ide yang sedang berjalan tidak berhenti karena terganggu.

Naskah yang sudah dicoreti itu belum tentu jadi naskah sesungguhnya. Selang beberapa hari, bisa jadi muncul ide baru lagi tentang pernyataan dialog, konflik, dan alur yang akan digunakan. Kalau memang muncul, jangan ragu-ragu mencoba menggantinya. Renungkan pergantian itu. Konsultasikan ke teman lain atau peragakan dengan pikiran gerak yang sesungguhnya seandainya naskah itu dipentaskan. Kadang ada naskah yang beberapa tahun dibuat belum selesai-selesai juga. Namun, ada juga penulis naskah yang hanya membutuhkan waktu yang singkat dalam menulis naskah drama. Semua itu tidak menjadi hambatan. Yang terpenting, naskah yan¢ dibuat dapat jadi dan layak untuk dipentaskan.

Penulis naskah tentunya pelu memahami ragam naskah yang dibuat agar tepat sasaran. Buatlah kerangka naskah terlebih dahulu dengan menuliskan alur penting saja. Bisa pula, penulis menuliskan pernyataan penting terlebih dahulu dan tokoh yang memunculkan pernyataan itu belum ada. Modifikasikan naskah yang dibuat dengan konteks pementasan (panggung, radio, atau televisi dan film).

Yang perlu diingat, penulis naskah harus yakin bisa mewujudkan naskah. Hal itu perlu didukung oleh niat dan kemauan. Di samping itu, pengalaman, wawasan, dan pengetahuan yang bersumber dari membaca, mengamati, merenung dan berdialog dengan sesama teman sanagat diperlukan. Yang terakhir, semangat untuk bisa mewujudkan naskah harus terus ada. Ingat, Romrr tidak dibangun hanya sehari, peribahasa itu menunjukkan bahwa dalam membuat naskah pelu mencoba, berkali-kali, berkelanjutan, dan serius. Putu Wijaya, Rendra, Arifin C. Noor, dan pengarang naskah drama lainnya tentunya tidak langsung ahli seperti itu. Pastilah mereka berangkat dari mencoba, berkali-kali, berkelanjutan, dan sukses.

Selain membuat naskah yang baru sama sekali, penulis naskah bisa pula mengadaptasikan cerita drama dari cerpen, novel, atau puisi. Ide dasar bersumber dari penulis sastra itu, sedangkan penulis drama tinggal memberi dan menguatkan nuansa dramatisnya. Ada pula, penulis naskah yang menerjemahkan naskah drama dari negara lain. Naskah drama asing itu juga diadaptasikan kembali ke dalam naskah yang bernuansa keindonesiaan. Itu semua kerja kreatif dan bisa dilakukan.


 

D. Pergelaran Drama

.Bermain peran, sandiwara, atau teater bukanlah hal yang asing bagi siscva di sekolah. Dewasa ini dengan banyaknya teve swasta drama telah menjadi hal yang amat umum, tidak seperti masa lalu. drama telah memasyarakat. Bahkan di samping melalui kegiatan kurikuler, banyak sekolah menyelenggarakan pendidikan teater pada kegiatan ekstrakurikuler. Ada kalanya sekolah tertentu dikenal karena teaternya. Banyak fungsi pedagogisyangdapatdikenakan pada kegiatandrama. Fungsi itu antara lain:

  1. melatih anak berani dan tidak malu
  2. melatih anak mandiri
  3. Melatih anak mandiri
  4. Melatih anak disiplin
  5. Melatih anak menghargai semuanya
  6. Melatih kepekaan estetika anak

Betapa berfaedahnya drama bagi pendidikan sosio-psikologis anak. Seorang pembina teaterhendaknya memiliki bekal pengetahuan minimal yang cukup untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Apalagi pendidikan teater atau drama berhubungan dengan perkembangan insani, dari alam kejiwaan yang belum matang sampai mencapai kedewasaan bernalar.

Oleh karenanya, pembina drama harus peka terhadap kesenian dan memiliki rasa apresiatif terhadap nilai-nilai artistik dan aspek-aspekseni yang mendukung seni drama. Misalnya seni rupa, seni sastra, seni musik, dan sebagainya. Seorang pembina drama tentu saja harus memiliki wawasan teater yang luas, mengenal hukum-hukum panggung, dan sebagainya. Selanjutnya pembelajaran pada bagian ini akan akan membahas lebih jauh subtopik "Hakikat Pergelaran Drama, Drama Radio,dan Drama Panggung".


 

  1. Hakikat Pergelaran Drama

Pergelaran drama bukanlah sebuahacara kesenian yang asing bagi Anda, bahkan tidak asing pula bagi para siswa di sekolah. Setiap kali ada acara Malam Kesenian selalu ditampilkan pula pertunjukan drama. Bahkan acapkali terdapatpula lomba-lombadramadi lingkungan terbatas,bersifatlokal, regional, mungkin pula nasional. Apa yang dimaksudkan dengan pergelaran drama?

Drama menurut buku Websters Dictionary of 77ie American Lan~~age diartikan sebagai hasil karya sastra dalam bentuk prosa atau puisi yang ditujukan untuk dipentaskan atau dimainkan di atas panggung. Sedangkan Harymawan (1988:2) menvebutkan bahwa drama merupakan cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action di hadapanpenonton. Kedua pendapattersebuttampaksalingmelengkapi. Berdasarkan uraian di atas pergelaran drama itu memiliki beberapa komponen yang harus dipenuhi.

a.Hasil karya sastra

Hasil karya sastra tersebut dapat berupa prosa maupun puisi, baik lisan maupun tulisan. Dalam drama tradisional karya sastra yang hendak dipentaskan itu berbentuk lisan, sedangkan dalam drama modern karya sastra yang akan dipergelarkan itu berbentuk tulisan. Oleh karena itu, pergelaran drama modern selalu bermula dari adanya naskah drama. Karena naskah drama tersebut merupakan karya sastra, maka unsur-unsur yang terdapat dalam naskah drama tidaklah jauh berbeda dengan unst~r-unsur karya sastra prosa. Di dalamnya terdapat alur, tokoh dan penokohan, latar, tema, dan sebagainya. Perbedaan penulisan karya sastra prosa dan karya sastra drama hanya terdapat dalam persoalan teknis semata.

Secara teknis naskah drama menurut Japi Tambajong selalu dibangun oleh dua komponen penting yaitu wawancang dan kramagung (1981:21-22). Wawancang atau dialog merupakan percakapan yang harus dihafal aktor. Ntenghafal wawancang sekaligus menciptakan intonasi yang tepat. Untuk itu, di perlukan vokal yang baik bagaimana men~ucapkan diksi dan artikulasi secara jelas. Dalam wawancang terkandung semua perasaan: marah, jengkel fbimbang, riang, sedih, takut, bangga, dan sebagai Sedangkan kramagung itu ibarat perintah yang menyuruh aktor berbuat halhal lahiriah. Bahasa Inggrisnya stage direction atau business. Kramagung ini ji:~ga merupakan petunjuk bagi penata panggung untuk merripersiapkan panggung sesuai dengan latar cerita.

Perhatikan penggalan naskah drama berikut ini.

LISAWATI DUDUK DI KURSI BELAKANG. IA ADALAH GADIS JELITA, BERUSIA SEKITAR 20 TAHUN, MENGENAKAN PAKAIAN DANDANAN NIUTAKHIR.TAS DANSATU EKS BUKU DIKTAT YANG DIBAWA,TERLETAK DI KURSI KIRI. SEKARANG IA SEDANG MEMBACA KORAN SAMBIL SESEKALI MENOLEH ARAH PINTU KE BELAKANG.

KEMUDIAN SAPARI MUNCUL DARI PINTU BELAKANG DENGAN TERSENYUM. IA BERUSIA LEBIH KURANG 27 TAHUN.

1. 

Lisawati : 

Bagaimana si orok? Tak perlu bantuanku,bukan? 

2. 

Sapari : 

O, tidak. Sudah beres. Tidur pulas ia sekarang. Jadinya lega aku.

3. 

Lisawati : 

Tak kusangka engkau seterampil itu. 

4. 

Sapari . 

(MELANGKAH KE KURSI DEKAT MEJA) ucapan orang 

  

bijaksana memang selalu benar. 

  

(Tanpa pentbanh~, Drama Pendek A. Adjib Hamzah) 

Bagian naskah di atas yang ditulis denga~l huruf kapital dan atau di dalam kurung itulah yang dimalsud dengan kramagung, sedangkan yangberupa kutipan langsung merupakan wawancang. Bahasa yang dipakai dalam naskah drama itu bervariasi. Kita perhatikan contoh berikut ini.

Mak saleha Wak Salihun Mak Saleha Waksalihun

mau pergi ke langgar, Bang? Iye gitu deh Pok Leha.

Ape ude lohor ni Bang. Rasanya ye ampir juga.

(NYAI DASIMA karya S.Nl.Ardan)

Mira = Saya tidak senang. Gayanya terlampau dibuat-buat. Skenario pun buruk. Mana ada anak Lurah naik k~da Australi, dengan tampang macam anak raja.

Rudi = Kau nggak bilang sama sutradaramu?

(N1IMI PELACURKU karya N. P.iantiarno)

Adik     : "Aku takut, Yu"

Yu    : "Ada apa?"

Adik     : "Dikawinkan si mbok"

Yu     : "Sapa karo sapa?"

Adik     : "Aku karo juragan pabrik. Bojone wis telu."


 

(RUMAH TAK BERATAP, RUMAH TAK BERASAP karya Akhadiat)

Nyanyian = Beratus-ratus tahun sudah Kita tak pernah istirahat Betapa panjang ini perjalanan Betapa panjang ba,yangan Tuhan Betapa menyilaukan cahaya Tuhan Kadang membutakan

Kadang membutakan

(DALAM BAYANGANTUHAN karya Arifin C. Noer)

Kalau kita perhatikan keempat penggalan di atas memiliki perbedaan dalam memilih ragam bahasa. NYAI DASINIA banyak menggunakan bahasa daerah Betawi. Penggunaan bahasa daerah juga terdapat dalam RUMAH TAK BERATAP. Penggunaan bahasa daerah itu dimaksudkan untuk mempertajam latar sosial dan subkultur tokoh-tokohnya. Hal itu tentu saja berpengaruh terhadap penggarapan gerak, kostum, ucapan, dan sebagainya.

Sedangkan NIINtt PELACURKU memakai ragam bahasa Indonesia nonbaku. DALAM BAYANGAN TUHAN memakai ragam sastra tinggi, penuh kontemplasi dan renungan. Hal itu menpengaruhi suasana pentas yang diinginkan.

b. Aktor

Drama adalah karya sastra yang dipentaskan. Dalam naskah drama terdapat tokoh. Apabila naskah tersebut dipentaskan sang tokoh harus diperankan oleh seseorang. Seseorangitu disebutaktor.

Asrul Sani menyebutkan bahwa untuk menjadi bintang film tidak perlu pendidikan dan kerja keras seperti yang dikehendaki dari seorang aktor. Seorang bintang adalah hasil perpaduan nasib dan publisitet yang sebanyak-banyaknya dan sehebat-hebatnya (dalam Boleslavski,1960:8).

Diskusikan dengan teman-teman Anda perbedaan aktor dan bintang film. Menurut Rendra(1993:7-8) seorang aktor yang baik akan mampu menjelmakan peran yang hidup sekali. Ia bisa menjelma seorang dokter dengan cara yang meyakinkan. la juga bisa menjelma menjadi raja dari negeri dongeng atau menjadi pemimpin gerombolan perampok atau menjadi seorang ulama besar yang terpandang, dengan cara yang sungguh-sungguh meyakinkan. Tentu saja untuk dapat mencapai mutu permainan semacam itu tidak cukup bila ia sekadar berpura-pura saja. Ia harus benar-benar bisa menghayati peran itu. Oleh karena itu, seorang aktor harus menelaah lebih dulu tokoh yang hendak ia perankan agar sempurna penghayatannya.

Diskusikan dengan teman-teman Anda telaah apa saja yang harus dilakukan oleh seorang aktor bila harus memerankan tokoh Pangeran Diponegoro agar ia mampu menghayati tokoh tersebut.

Misalnya saja andaikan aktor tersebut harus memerankan tokoh seorang gila maka ada baiknya ia pergi ke Rumah Sakit Jiwa, melakukan pengamatan di sana. Ia harus mengamati secara dekat bagaimana perilaku orang gila pada umumnya. Semakin teliti pengamatannya, akan semakin hidup penggambarannya nanti di atas pentas. Seorang aktor yang baik merupakan seorang pengamat kehidupan yang baik pula.

Di samping itu menurut Adjib Hamzah (1985) aktor mempunyai posisi unik dibandingkan dengan pekerja teater yang lain (penata panggung, penata lampu, penata musik, dan sebagainya). Alat ekspresi seorang aktor tak dapat dicopot dan dipindah seperti properti misalnya, sebab alat ekspresinya adalah tubuh dan suaranya sendiri. Oleh karena itu, Asrul Sani (dalam Stanislavski,1980:7) menulis seorang aktor harus melatih tubuhnya dan suaranya untuk dapat menjadi instrumen seni peran yang baik.

c. Sutradara

Ada beberapa pertanyaan mendasar sehubungan dengan pergelaran drama. Siapakah yang memilih naskah yang akan dipentaskan? Bagaimana cara memindahkan naskah yang berupa karya sastra kebentuk dialog dan akting? Siapa yang merancang pemindahan itu? Siapa yang akan melatih para aktor supaya penghayatannya benar-benar tepat? Siapa yang bertanggung jawab secara menyeluruh pergelaran itu? Jawabannya ialah sang sutradara. Dengan demikian kedudukan sutradara amatlah penting.

Untuk pergelaran drama di sekolah siapakah sutradara yang cocok?Guru atau siswa? Diskusikan dengan teman kelompok Anda persoalan tersebut. Menurut Japi Tambajong secara teknis sutradara bertanggung jawab terhadap beberapa hal, karena ia amat menentukan keberhasilan pergelaran drama itu.

  1. Memilih naskah Pemilihan naskah hendaknya didasarkan pada segi falsafi naskah yakni naskah tersebut mengandung perenungan dan pemikiran; segi artistik naskah yakni naskah tersebut memiliki nilai-nilai seni yang dalam dan luhur; segi etis yakni naskah tersebut secara moral bermanfaat bagi umat manusia; segi komersial yakni naskah itu harus mampu memancing perhatian orang untuk menontonnya.
  2. Menentukan penafsiran naskah; Secara keseluruhan penafsiran naskah dalam sebuah pergelaran memakai penafsiran sutradara. la yang bertanggung jawab terhadap penafsiran itu. Diskusikan dengan teman-teman Anda apa yang terjadi bila setiap aktor boleh menafsirkan naskah sesuai dengan kemauannya sendiri-sendiri. Oleh sutradara naskah drama tersebut harus ditafsirkan dari sisi tema dan amanat oleh si penulis naskah, konflik-konflik yang muncul dan berkembang, gaya ekspresi, dan sebagainya. Di samping itu sutradara harus menafsirkan karakter tokoh dari sudut psikologis,sosiologis, danhistoris, serta fisiknya.
  3. Memilih aktor; Setelah naskah ditafsirkan, kemudian sutradara memilih aktor. Pemilihan tersebut didasarkan kesesuaian tokoh dan aktor, kemampuan aktor, serta keadaan fisik sang aktor. Untuk pergelaran komersial acap kali juga harus diperhatikan nama aktor. Aktor yang terkenal tentu akan lebih besar peluangnya untuk menarik perhatian penonton. Dalam kasus tertentu aktor mampu jadi pusat segala potensi yang ada.
  4. Bekerja dengan staf; Sutradara juga harus menentukan siapa-siapa yang akan membantunya sebagai penata panggung, penata lampu, penata musik, penata busana, penata rias, dan sebagainya. Staf tersebut harus memiliki wawasan seni yang luas agar dapat berjalan sendiri tanpa terlempar atau terikat pada konsep sutradara sendiri. Seorang pekerja teater harus aktif yaitu mempunyai etos kerja yang tinggi; kreatif yaitu memiliki inisiatif, tanpa harus menunggu dan bergantung kepada sutradara; kritis yakni peka terhadap persoalan estetika yang muncul.
  5. Melatih pemain; Sutradara menentukan hari-hari latihan setelah berembuk dengan pemain kapan harus berlatih dan berapa hari dalam seminggu. Ia membuat buku daftar hadir, menyiapkan segala fasilitas supaya jalannya latihan tidak awut-awutan. Setiap selesai berlatih, ia menyediakan waktu untuk berdiskusi, membuka kemungkinan agar terjadi kritik, baik antara sesama pemain maupun terhadap sutradara sendiri.


 

2. Drama Radio Dan Drama Panggung

Berdrama sebenarnya juga berlatih berkomunikasi. Diskusikan bersama teman-teman Anda mengapa berdrama juga berarti berlatih berkomunikasi. Drama radio merupakan drama yang dipergelarkan dengan memakai radio sebagai mediatornya, bukan panggung. Karena itulah drama radio agak berbeda dengan drama panggung. Radio merupakan media audio, jadi hanya untuk didengar. Dengan demikian keberhasilan drama radio sangat ditentukan oleh kemampuan drama radio tersebut membangun imajinasi pendengar tentang gerak-gerik tokoh, tentang latar cerita, tentang suasana cerita, tentang konflik, dan sebagainya melaluj suara.

a. Fungsi Musik dalam Drama Radio

Jika dalam drama panggung lakon dibuka dan ditutup dengan pemanfaatan layar atau lampu, dalam drama radio peran layar atau lampau diganti dengan musik. Ntusik sebagai penanda bahwa drama itu dimulai atau selesai tentu saja harus dirancangsecermat-cermatnya. Demikian pula pada saat pergantian adegan dan pergantian babak, musik amat besar fungsinya. Musik juga berfungsi sebagai penanda atau penonjolan ciri-ciri tempat. Misalnya jika cerita terjadi dengan latar Solo atau Yogya bisa saja kita menggunakan gamelan gaya jawa Tengah, bila terjadi di Bandung kita gunakan gamelan Sunda. Bila peristiwa terjadi di Denpasar kita pakai gamelan Bali, bila terjadi di Arab kita pakai irama padang pasir.

Musik berfungsi pula sebagai pembangun suasana hati atau emosi. Dalam adegan sedih hendaknya kita tampilkan musik yang lembut,dalam suasana riang kita tampilkan musik yang bernada gembira.

b. Fungsi Sound-Effect dalam Drama Radio

Sound-effcct merupakan sarana estetik yang berupa suara-suara tertentu untuk membangun suasana dalam drama radio. Efek suara itu bisa berupa kicau burung pagi hari, suara kuda berlari. Suara derit pintu, suara mobil, suara hujan, dan sebagainya. tersebut berguna untuk membangun imaji tertentu dalam benak pendengar.

Perbedaan babak satu dengan yang lain ditunjukkan dengan pemakaian sound effect. Misalnya adegan disebuah stasiun kereta api kita tunjukkan dengan suara hiruk pikuk orang di stasiun tersebut yang ditingkahi suara jerit loko dan gerakan roda kereta. Adegan di tepi pantai ditunjukkan dengan suara ombak dan gelombang.

Pendek kata menurut Adjib Hamzah semakin pandai kita menemukan ciri suasana, ciri suatu lokasi, kita akan semakin berhasil membentuk "panggung khayal" dalam benak para pendengar. Semakin jeli kita memilih efek suara semakin hidup drama radio itu dalam daya bayang pendengar.

c. Dialog dalam Drama Radio

Dialog dalam radio amatlah dominan. Perlukah seorang a ktor drama radio hafal dialog? Bermain drama radio tidak dituntut hafal dialog. Tetapi-hal itu bukan berarti aktor drama tidak hafal sama sekali naskah yang hendak dibawakannya. Karena bila aktor tersebut benar-benar tidak hafal, penghayatannya akan kurang. Seorang aktor drama radio harus tahu benar apa yang hendak diucapkannya. ltu diperlukan agar ia mampu menjiwai tokoh yang ia perankan melalui pengucapan dialog.

Menurut Adjib Hamzah kelemahan dialog dalam drama panggung masih dapat ditutup dengan mimik dan akting yang berhasil. Tidak demikian dalam drama radio. Karena pemilihan pemain lebih ditekankan pada perbedaan karakter dan volume suara yang amat kontras. Karakter suara yang hampir sama, diksi yang mirip-mirip, logat atau dialek yang mirip-mirip, akan mengacaukan imaji pendengar. Hal itu harus dihindari.

Jarak mulut pemain dengan mikrofon harus pula diperhatikan. Jarak ideal harus dicari, kemudian ditetapkan. Pencarian jarak ideal itu tentu saja melalui coba-coba dulu. Setelah ditemukan jarak ideal kemudian dijadikan patokan yang baku tiap kali merekam suara. Masing-masing mikrofon mungkin memiliki kepekaan yang berbeda, sehingga perlakuan terhadap masing-masing mikrofon tidaklah sama. Mengatur jarak ideal masing-masing mikrofon dapat dilakukan dengan menggeser tempat berdiri. Andaikan kita harus berteriak hendaknya kita mundur selangkah atau menoleh ke samping agar suara yang dihasilkan tidak pecah.

d. Movement dalam Drama Radio

Movement adalah gerakan atau perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Movement terjadi bila seorang pemain ingin mengungkapkan perasaan dalam hubungannya dengan suatu alasan hingga melahirkan suasana baru. Bagaimana dengan movement dalam drama radio?

Movement pun diproyeksikan lewat suara. Orang berjalan diwujudkan dengan memperdengarkan tapak langkahnya saja. Demikian pula bila orang tersebut naik kuda, maka tapak kaki kuda kita perdengarkan. Orang duduk dengan memperdengarkan kursi digeser. Orang minum ditampilkan dengan suara meneguk minuman atau menyentuhkan.gelas pada lepek.

Orang berjalan menjauh atau mendekat diwujudkan dengan suara langkah kaki yang makin menjauh atau makin mendekat. Orang yang akan pergi dengan mengendarai mobil akan diperdengarkan lewat suara tapak sepatu menuju pintu mobil, suara pintu mobil yang dibuka, suara pintu mobil vang ditutup, suara mesin mobil yang sedang dihidupkan, dan suara deru mobil yang makin lama makin jauh, kemudian tak terdengar.

e. Penghayatan Aktor Drama Radio

Agar sang aktor bisa bermain dengan baik, tentu pertama-tama harus menguasai isi naskah drama itu. Para aktor harus cermat menemukan makna apa yang terkandung dalam tiap kalimat. Perwatakan tokoh yang diperankannya hendaknya ditemukan dengan cara mencoba-coba lewat tampilan lagu bicara atau intonasi. Di dalam memproyeksikan jangan memakai ukuran suara drama panggung. Dalam drama radio dituntut suara yang wajar dengan artikulasi jelas, namun kaya akan penampilan warna. Suku kata terakhir harus jelas terdengar. Dalam hal itu banyak aktor yang gagal atau sekadar tersandung.

Hindari dialog yang mor.oton karena akan membosankan. Jika berulang kali masih terasa monoton, cobalah dengan membacannya keras-keras dengan berbagai variasi diksi. Setelah ditemukan ucapan yang benar mulailah berucap secara wajar sesuai dengan konteks dan kebutuhan. Di samping itu jangan terlalu banyak jeda seperti drama panggung. Dalam drama panggung jeda akan diisi oleh akting atau perubahan bloking. Dalam drama radio jeda yang terlalu lama membuat suasana menjadi terpenggal dan irama keseluruhan pertunjukan menjadi pelan, lalu membosankan.

f. Naskah Drama Radio

Dalam banyak hal naskah drama radio tidak jauh berbeda dengan naskah drama panggung. Perbedaannya terletak pada pemanfaatan unsur suara yang merupakan media pokok. Dalam naskah drama radio petunjuk mengenai sound-effect dan jenis musik yang diperlukan harus dituliskan secara jelas. Bahkan keterangan kapan musik itu "masuk'', kapan musik itu "mati", bagaimana cara musik itu "dihilangkan" dan sebagainya harus jelas tertutis dalam naskah itu. Pada saat membuat naskah drama radio kita harus pula memperhatikan nama-nama tokoh. Jangan mempergunakan nama-nama yang mirip. Nama

Ahmad dengan Somad, Harno dengan Parno, Tiwi dengan Dewi akan terdengar sama. Akibatnya akan mengganggu imaji pendengar. Lain halnya bila nama itu adalah Ahmad, Burhan, Indra, Tesa, dan sebagainya. Semua nama harus cukup jelas terdengar bedanya. Jika perlu nama-nama itu diulang-ulang disebut dalam dialog, asal tidak menjemukan. Aktor drama radio perlu mengetahui dan menguasai penggunaan istilah yang dipakai dalam drama radio. Berikut ini beberapa istilah yang sering dipergunakan.

Background    = latar be(akang. Ntisalnya musik keras sebagai background perkelahian Herman dengan Yudi.

Cut    = cepat hilang, lenyap seketika.

Dissolve in    = suara atau musik perlahan dicampur dengan suara atau musik baru, dan yang baru itu akhirnya yang terdengar.

Echo    = suara menggema

Fade in    = musik yang makin lama makin jelas

Fade out    = musik yang makin lama makin tak terdengar

Filter    = suara yang terdengar seperti dalam pesawat telepon

Out    = cepat berhenti

Tune     = pembukaan

Berikut ini mohon Anda perhatikan penggalan naskah drama radio.

Drama radio PENIBURUAN oleh: A. Adjib Hamzah

Fadein BABAK I

  1. MUSIK    : Tune
  2. SUARA    : Dissolve in. Kicau burung dari jauh, gelas diletakkan di lepek.

    Dissolveout.

  3. Kasmidi     : Semua sudah kausiapkan?
  4. Ratna    : Sudah. O, ya, surat-surat yang Mas perlu kan? Kemarin sudah mas siapkan belum?
  5. Kasmidi     : Cobalah periksa di tasku?

Begitulah sepintas mengenai drama radio. Lalu. bagaimana dengan drama panggung? Drama panggung adalah drama yang dipentaskan di atas panggung. Drama jenis ini sangat dikenal siswa di sekolah karena hampir pada setiap kegiatan Malam Kesenian drama panggung selalu muncul. Apa saja yang mesti dipersiapkan dalam pementasan drama panggung oleh sutradara?


 

3. Naskah Drama

Terlebih dahulu kita harus mengetahui perbedaan naskah dan lakon. Naskah adalah bentuk atau rencana tertulis dari cerita drama. Sedangkan lakon adalah hasil perwujudan dari naskah yang dimainkan. Naskah cerita drama karya William Shakespeare yang berjudul " Hamlet" misalnya akan selalu tetap. Tetapi lakon, yakni naskah ~~ang dipertunjukkan akan berubah atas dasar konsep sutradara.

Lakon cerita drama "Hamlet" hanya terwujud pada saat terbuka hingga ditutupnya tirai pertunjukkannya. Sebetum dan sesudah saat memainkannya tidak ada lakon "Hamlet" yang ada adalah naskah "Hamlet".-Lakon "Hamlet" yang berkali-kali dimainkan selalu berubah-ubah kondisi kualitas artistiknya, bergantung pada siapa dan dimana memainkannya. Sedangkan naskah "Hamlet" tetap kualitas artistiknya.

Cerita drama digubah dengan tiga bahan pokok, yaitu: tema, tokoh dan alur. Tema ialah rumusan intis~ri cerita sebagai landasan idiel dalam menentukan arah tujuan ceritera. Tema merupakan landasan pola bangunan lakon. Tidak ada cerita drama yang baik tanpa tema. Misalnya saja Macbeth (William Shakespeare) temanya nafsu angkara murka bisa membinasakan diri sendiri. Ari (Usmar Ismail) bertemakan ambisi angkara murka akan membinasakan diri sendiri.

Sutradara harus mampu menangkap temasebuah naskahdrama. ~emahaman yang benar mengenai tema akan mengarahkan sutradara untuk memilih bentuk dan gaya lakon yang akan ditampilkan. Sedangkan tokoh merupakan bahan yang paling aktif. Tokoh merupakan motorpenggerakalur.Tokohmerupakan pribadi yanghidup, bukan pribadi yang mati. karena tokoh itu berpribadi, dia memiliki tiga dimensi sifat yaitu dimensi fisiologis, dimensi sosiologis, dan dimensi psikologis.

Dimensi fisiologis meliputi; (1) usia (tingkat kedewasaan), (2) jenis kelamin, (3) keadaan tubuhnya, (4) ciri-ciri muka, dan sebagainya. Dimensi sosiologis meliputi: (1) status sosial, (2) pekerjaan, jabatan, peranan di dalam masyarakat, (3) pendidikan, (4) kehidupan pribadi, (5) pandangan hidup, kepercayaan, agama, ideologi, (6) aktivitas sosial, organisasi, hobi, bangsa, suku, keturunan. Dimensi psikologis meliputi: (1) mentalitas, ukuran moral/ membedakan antara yang baik dan yang tidak baik, (2) temperamen, keinginan dan perasaan pribadi, sikap dan kelakuan, (3) I.Q. (Intelligence Quotient), tingkat kecerdasan, kecakapan, keahlian khusus dalam bidang-bidang tertentu.

Jika salah satu dari ketiga dimensi tersebut terabaikan, maka tokoh tersebut akan hadir sebagai tokoh yang timpang, cenderung menjadi tokoh yang mati. Bagi seorang sutradara analisis tokoh itu penting sekali. Dengan memahami keadaan tokoh sang sutradara akan bisa memilih aktor yang sesuai, melatih aktor sesuai dengan tuntutan karakter tokoh, dan sebagainya. Bagaimanakah tokoh Hendrapati dalam drama Api karya Usmar Ismail? Berdasarkan data pada naskah tersebut mungkin saja kita bisa menemukan dimensi-dimensi sebagai berikut.

Hendrapati itu merupakan sosok yang berusia 48 tahun dan bertubuh tinggi kurus. Ia seorang apoteker yang tidak lulus dalam pendidikan tingginya di Rotterdam. Walaupun bukan keturunan bangsawan ia termasuk orang kaya. Hanya sayang kehidupan pribadinya dan kehidupan keluarganya penuh pertentangan. Dia memiliki dua orang anak yang sudah dewasa dan seorang istri. Kepandaian dan kecakapannya tanggung sekali. Akibatnya ia selalu rendah diri, walaupun kemauannya keras sekali. Ia ingin termasyhur dan terhormat. Dengan beberapa kelemahan yang dimiliki jadilah ia orang yang mau menang sendiri, tak kenal kasihan, dan materialistis. Watak dan standar moralnya amat rendah.

Kemudian apa yang dimaksud dengan alur? Alur merupakan kerangka kejadian tempat para tokoh berbuat. Alur merupakan keseluruhan peristiwa di dalam naskah yang saling berhubungan secara kausalitas. Dengan pertimbangan-pertimbangan yang masak, serentetan peristiwa itu ditampilkan di atas panggung. Peristiwa-peristiwanya memang menarik, menggerakkan perbuatan menuju klimaks setelah melalui pelbagai krisis untuk akhirnya mencapai kesimpulan.

Alur merupakan rangkaian konflik. Konflik itu muncul dari adanya tokoh-tokoh vang saling memiliki kepentingan berbeda, kemauan berbeda, kehendak berbeda, pikiran berbeda, dan sebagainya. Bagi seorang sutradara pemahaman mengenai alur ini amat penting. Lebih-lebih dalam menentukan konflik apa yang muncul, dan di adegan mana konflik itu berada. Pemahaman yang benar terhadap konflik akan menentukan cara su tradara meletakkan fokus adegan, mengatur bloking dan moving, dan sebagainya.

a. Aktor dan Akting

Tentang aktor telah dibahas pada kegiatan belajar terdahulu. Pada bagian ini akan dibahas bagaimana seorang aktor bermain dalam drama panggung. Aktor tak dapat dilepaskan dari persoalan akting karena tugas aktor memang memerankan seorang tokoh. Ommanney merumuskan akting dengan keselarasan yang sempurna antara suara dan tubuh untuk menciptakan satu tokoh. Tujuan akting adalah menampilkan orang sebagaimana adanya. Di tempat lain Usmar Ismail mengatakan bahwa seni berperan adalah seni menafsirkan bukan seni mencipta. Seorang pemain menafsirkan secara kreatif kehidupan dalam segala bagian dan seginya dengan-mempergunalcan peralatan tubuhnva, peralatan pikirannnva, dan peralatan perasaannya.

Menurut Adjib Hamzah akting adalah peragaan, penampilan satu peran yang menyebabkan penonton dapat tersangkut pada ~jusi yang dibangun oletl aktor. Apabila aktor berhasil memerankan seorang tokoh, reaksi emotif penonton akan diproyeksikan kepada sang tokoh bukan si aktor. Dengan demikian akting dapat dikatakan sebagai penciptaan ilusi sang tokoh oleh aktor. Sarana untuk menghasilkan akting adalah movement, gesture, business, ritmik, suara, sebagainya. Movement adalah gerakan atau perpindahan aktor dari satu tempat ke tempat lain saat bermain. Movement tentu saja harus didasarkan pada motif atau alasan tertentu. Jangan melakukan gerakan tanpa tujuan.

Sedangkan gesture tidak jauh berbeda dengan busmess. Kedua-duanya merupakan gerak-gerak kecil yang dilakukan aktor. Misalnya saja gerakan tangan waktu menjelaskan suatu hal, gerakan kepala saat menunjukkan rasa heran, dan sebagainya. Hanya saja dalam business gerakan tersebut dibantu dengan hands properhf (peralatan tangan) seperti rokok, tas, gelas, dan sebagainya.

Mimik atau ekspresi wajah juga harus diperhatikan oleh seorang aktor. Mata merupakan pusat ekspresi. Rasa marah, cinta, benci, cemburu, culas, dan sebagainya akan terpancar lewat mata. Meskipun bermacam gerakan telah benar, suara telah bagus, tetapi ekspresi matanya kosong saja, dialog yang diucapkan tidak akan mampu meyakinkan penonton. Dalam kegiatan berperan kita mengenal istilah over-acting yaitu akting yang berlebihan. Akting yang berlebihan ini tentu saja membuat gerakan aktor menjadi tidak wajar, buruk. Suara dan ucapan pun merupakan sarana penting dalam berperan karena dalam drama selalu ada dialog. Artikulasi bunyi yang diucapkan oleh seorang aktor harus jelas dan indah. Iru berarti seorang aktor dituntut memiliki suara yang bermutu. Latihan membangun suara yang bagus harus selalu dilakukan oleh aktor. Lebih-lebih dalam drama ucapan memiliki beberapa Eungsi. Menurut Adjib Hamzah fungsi ucapan itu adalah: (1) menyalurkan kata dari drama kepada penonton; (2) memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara; (3) memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh; (4) mengendalikan perasaan penonton seperti dilakukan oleh musik; (5) melengkapi variasi.

b. Tata panggung

Panggung merupakan kanvas besar bagi sutradara. Pada saat ia menyu tradarai pada hakikatnya ia sedang melukis. Bagi aktor, selain tubuh dan suaranya sebagai alat ekspresi, maka panggung menjadi wadah untuk berekspresi. Wilayah bermain dibagi menjadi enam petak. Tiap petak mempunyai wataknya sendiri-sendiri. Petak itu dapat digambarkan sebagai berikut:


 

Kiri 

Atas 

Tengah 

Atas 

Kanan 

Atas 

Kiri 

Bawah 

Tengah 

Bawah 

Kanan 

Bawah 

Adapun kualitas dan watak petak itu adalah:

Kanan Atas    =     Adegan-adegan kecil yang tidak penting, baik dilakukan di sini.

        Watak wilayah ini bersifat lembut,lemah, dan jauh.

Tengah Atas    =     Meski jauh dan dingin tapi tetap kuat. Daerah ini baik untuk memulai suatu adegan penting yang bakal bergerak ke arah bawah. Untuk memulai suatu yang baru.

Kiri Atas    =     Lembut, jauh, lemah. Untuk a degan-adegan tidak penting. Sama seperti Kanan Atas, tapi lemah. Daerah ini amat efektif untuk adegan horor, hantu, sebab daerah ini mengungkapkan kualitas dunia abstrak.

Kanan Bawah    =     Akrab,hangat, kuat. Tepat sekali untuk adegan-adegan percintaan maupun perikemanusiaan, cinta kasih. Karena konotasinya dengan hati dan iklim rumah tangga, setting pada banyak repertoire barat menempatkan perapian di daerah ini.

Tengah Bawah = Daerah ini paling kuat, penuh tekanan, agung. Bidang ini biasa dipergunakan pada saat kekuatan-kekuatan cerita saling berhadapan.

Kiri Bawah    = Petak ini sebenarnya juga berkualitas seperti Kanan Bawah, akan tetapi lebih lemah dibandingkan dengan Kanan Bawah. Amat baik untuk tindak lanjut dari adeganadegan yang sudah dimulai dengan Kanan Bawah. Namun ciri petak ini adalah untuk adegan penuh rahasia, skandal, cemburu, dan sebagainya.

Dalam menyusun properti di atas panggung kita harus memahami prinsip-prinsip komposisi pentas. Prinsip tersebut tidak jauh berbeda dengan prinsip komposisi pada seni lukis. Komposisi pentas menurut Harymawan adalah penyusunanyang fungsional dan artistik atas bahan-bahan perlengkapan pada pentas. Aktor adalah bahan yang bergerak, dekorasi serta peralatan panggung yang lain merupakan bahan bahan statis yang tidak bergerak. Komposisi pentas hendaklah direncanakan, dan dicoba dengan memperhatikan aktor dan properti itu; bahan bergerak dan bahan tidak bergerak.

Yang harus diperhatikan pada saat merencanakan komposisi pentas adalah: (1) komposisi harus tampak wajar, (2) komposisi hendaklah menceritakan suatu kisah, (3) komposisi hendaklah menggambarkan suatu emosi, (4) komposisi hendaklah menggambarkan hubungan tokoh satu dengan yang lain.

 

c. Tata Lampu,Tata Suara dan Tata Musik

Lampu dalam drama panggung memiliki dua fungsi yaitu sebagai penerangan dan sebagai pencahayaan. Sebagai penerangan lampu berfungsi semata-mata menghapus suasana gelap sehingga seluruh benda di atas panggung terlihat jelas, yang penting maupun yang tak penting. Sebagai pencahayaan lampu berfungsi menimbulkan sugesti emosi tertentu sesuai dengan tuntutan dramatik lakon. Karena itulah lampu harus sungguh-sungguh disiapkan pada setiap pemanggungan lakon. Diskusikan dengan teman-teman Anda untuk adegan romantis, pembunuhan, pertengkaran, dan percakapan biasa warna lampu apa yang diperlukan.

d. Tata Rias danTata Busana

Tata rias merupakan seni menggunakan bahan-bahan kosmetika untuk mewujudkan wajah peranan. Tata rias berfungsi memberikan bantuan dengan jalan menampilkan dandanan atau perubahan-perubahan pada para pemain hingga terbentuk dunia panggung dengan suasana yang tepat dan wajar. Tata rias memiliki fungsi pokok dan fungsi tambahan. Fungsi pokok misalnya bila mengubah seorang aktor muda menjadi tokoh yang amat tua. Sedangkan fungsi tambahan tidak mengubah apa-apa. Misalnya saja bila seorang aktor muda memainkan karakter muda, tata riasnya hanya berfungsi tambahan yaitu semata-mata untuk menampilkan keindahan atau kecantikannya.

Lalu, apa yang dimaksud dengan tata busana? Tata busana adalah segala sandangan dan perlengkapannya yang dikenakan aktor di atas pentas. Busana pentas yang tepat akan membantu penonton mendapatkan suatu ciri atas pribadi tokoh. Di samping itu, busana pentas dapat membantu memperlihatkan adanya hubungan tokoh satu dengan tokoh yang lain. Tata busana berfungsi membantu menghidupkan perwatakan tokoh. Artinya, sebelum dia berdialog, busana sudah menunjukkan siapa dia sesungguhnya, bagaimana hubungannya dengan tokoh lain, umurnya, kepribadiannya, dan sebagainya.

Selain itu tata busana berfungsi memberikan fasilitas dan membantu gerak pelaku. tata busana harus mampu menambah efek visual gerak, menambah keindahan dan menyenangkan setiap posisi yang diambil aktor setiap saat. Anda tentu saja pernah menonton wayang orang, bukan? Diskusikan dengan kelompok Anda apa fungsi tata rias dan tata busana dalam pagelaran wayang orang?

1 komentar: